Archives : February 2009


Galungan Memusatkan Potensi Kehidupan

HARI Raya Galungan dan Kuningan sudah dirayakan lebih dari seribu tahun lalu oleh umat Hindu di Bali. Tiap enam bulan dirayakan, tanpa pernah absen. Sampai ada istilah dalam bahasa Bali "sing ada Galungan buwung". Artinya, tidak ada Galungan batal.

Meskipun demikian, Galungan itu dirayakan oleh generasi yang terus berubah-ubah dan zaman yang juga berubah-ubah. Oleh karena itu, cara merayakan Galunganpun seyogianya juga berubah-ubah disesuaikan dengan kebutuhan zaman. Yang tidak boleh berubah adalah hakikat Galungan yang dinyatakan dalam Lontar Sunarigama. Teks Lontar Sunarigama tentang Galungan harus terus menerus disosialisasikan agar perubahan cara merayakan Galungan tidak menyimpang dari hakikat Galungan itu. Teks itu sbb.: "Budha Kliwon Dungulan ngaran Galungan, patitis ikang nyana sandhi galang apadang mariakena byaparaning idep".

Read more 23/02/2009

Falsafah Sutasoma Dan Dasar Teologi Kerukunan (Perspektif Hindu)

 “àpan tiwas juga sirang muni boddhapàkûa, yan tan wruh ring paramatattva Úivatvamàrga,

mangkàng munìndra sang apàkûa Úivatva yoga, yan tan wruh ing paramatattva Jinatva manda”

Sutasoma XLII.2


(For a Buddhist monk will fall short of his goal if he does not know the excellent path of Úivaism. It is the same with the Úivaistic monk, if he does not know the highest Truth of Buddhism, then he is weak)

Disintegrasi bangsa merupakan satu ancaman yang belum terpecahkan tuntas dewasa ini. Kita menaruh harapan yang besar kepada Presiden RI, Ibu Megawati Sukarnoputri bersama Kabinet Gotong Royongnya untuk segera menuntaskan masalah ini. Salah satu pemicu terjadinya disintegrasi bangsa adalah krisis multi di-mensional yang berkepanjangan, yang merusak citra bangsa di mata Internasional. Bila kita kaji semua akar penyebab dari krisis tersebut, dapatlah kita nyatakan dengan tegas adalah adanya krisis moral yang diakibatkan oleh pendangkalan terhadap pemahaman dan peng-amalan ajaran agama. Agama belum mampu mengubah prilaku manusia seperti yang diamanatkan oleh ajaran agama.

Read more 23/02/2009

Mengingat Tuhan

Anan ya-cetah satatam yomam smarati nityasah
Tasyaham sulabham pertha nitya-yuktasya yoginah
(Bhagavad-Gita, 8. 14)
Bagi orang yang selalu mengingat-Ku dengan pikiran yang tak
tergoyahkan, Aku mudah dicapai, wahai Partha, Ia selalu konstan dalam Yoga.

KITA ingat bukan karena hafal. Mengingat Tuhan bukan seperti kita mengingat pelajaran dengan menghafal. Ingat akan Tuhan tidak pernah muncul dan seberapa banyak menghafal tentang konsep Tuhan, kitab suci, atau yang lain. Semakin banyak konsep memasuki pikiran maka ruang untuk mengingat Tuhan akan semakin sempit. Mengingat Tuhan tidak seperti mengingat pelajaran sekolah, kita ingat kalau kita telah mengisinya, tetapi mengingat Tuhan adalah kebalikannya, kosongkan isinya, maka ingatan tentang Tuhan semakin terang. Semakin kosong pikiran kita, maka semakin jelas gambaran Tuhan.

Read more 19/02/2009

"Kutukan" bagi Pelanggar Kesucian

PRASASTI Tamblingan yang ditulis pada tahun 844 Saka (922 M), ketika Sri Ugrasena menjadi Raja di Bali menetapkan bahwa wilayah Danau Buyan, Tamblingan dan sekitamya (sekarang dikenal sebagai kawasan Bedugul) adalah kawasan suci. Pada tahun Saka 858 beberapa keturunan Ida Maha Rsi Markandeya yakni warga Bhujangga Waisnawa menetap di Buyan Tamblingan ditugaskan untuk menjaga kesucian kawasan itu. Beliau membangun pura dan pasraman. Raja-rajà dari dinasti Warmadewa berikutnya antara lain Sri Jayapangus di tahun 1177 M dan Sri Bhatara Hyang Hyang Adidewa Paramaswara di tahun 1320 M menguatkan keyakinan kesucian wilayah Buyan-Tamblingan dengan menegaskannya dalam prasasti-prasasti yang berisi “kutukan” (bhisama) bagi pelanggar kesucian. Sejarah mencatat bukti kutukan Bhatara Paramaswara atas pelanggaran kesucian wilayah itu berupa malapetaka yang dahsyat:

Read more 18/02/2009

Perjalanan Melalui Lorong Waktu

Pemahaman ilmiah yang dicapai rsi-rsi India masa lampau, almarhum Perdana Menteri India menulis, “Kualitas menakjubkan rsi-rsi India masa lampau — kapasitas untuk merasa di rumah dalam ruang maha luas, tentang rentang waktu dan susunan astronomi, suatu kemampuan yang hanya ditandingi oleh para ahli matematika jaman ini.”

Bahkan ribuan tahun yang lalu, pemahaman ilmiah orang-orang India mengenai alam semesta sudah sangat maju. Hal ini merupakan pengetahuan biasa bahwa dunia ini adalah bukan datar tetapi bulat, bahwa planet kita adalah bukan pusat alam semesta tetapi hanya merupakan sebuah titik yang ada di dalamnya. Bahwa dunia ini bukan dengan tiba-tiba diciptakan tanggal 23 Mei 5478 Sebelum Masehi, tetapi dunia ini sudah ada sejak miliaran tahun yang lampau. Hal yang sangat luar biasa kalau kita berpikir di dunia Barat fakta-fakta ini baru diterima hanya beberapa ratus tahun yang lalu.

Read more 18/02/2009

Cara Mencapai Karunia Tuhan

Satatam kirtayanto mam
yatantas ca drdha vratah
namasyantas ca mam bhakty?
nitya-yukta upasate.
(Bhagawadgita. IX. 14)


SETIAP orang sepertinya mendambakan karunia Tuhan dalam perjalanan hidupnya ini. Mencapai karunia Tuhan menurut sloka Bhagawadgita yang dikutip dalam tulisan ini menyatakan bahwa tidak cukup hanya dengan memohon pada Tuhan dalam wujud sembahyang saja.

Read more 17/02/2009

Fenomena Gerbang Kematian

Pada satu kesempatan, teman saya berucap, “Hindu itu sadistis”. Saya terperanjat, betapa tidak? Biasanya pernyataan teman-teman saya yang non-Hindu selalu simpatik, etis dan berhati-hati jika menyerempet kepada hal yang berbau keagamaan. Sungguh lain dengan yang satu ini. Ketika saya tanyakan apa alasannya berucap seperti itu, jawabnya, “Iya memang, bayangkan kalau orang yang sudah mati dengan mengenaskan kemudian dibakar pula ramai-ramai, apa tidak sadis namanya.” Kalau dalam agama yang dianutnya perbuatan itu sungguh merupakan dosa besar dan tergolong perbuatan sesat (setan, iblis). Oh jadi itu toh masalahnya, perasaan saya yang tadinya ingin marah jadi batal. Saya maklum bahwa keyakinan saya dengan dia terutama tentang konsep Roh maupun tentang konsep kematian memang jauh berbeda. Harus dijelaskan dengan bijak dan masuk akal sehingga tidak terjadi persepsi salah tentang Hindu. Nih, yang susah jika kita tidak mampu untuk menjelaskan dengan baik sehingga kesalahan persepsi itu semakin meluas. Diakui atau tidak pengetahuan umat kita tentang tattwa masih sangat kurang, hanya segelintir (mereka yang mengenyàm pendidikan tinggi saja) yang relatif paham. Yang sering mendapat pertanyaan dari umat lain adalah mereka yang awam, bukan yang berpendidikan, tentu informasi yang diberikannya sesuai dengan “keawamannya”. Hal itulah yang mengilhami tulisan kecil ini.

Read more 17/02/2009

“Ardhanareswari” Siwa Uma

Di dalam ajaran Siwattwa, Tuhan disebut Bhattara Siwa, merupakan satu-satunya kebenaran abadi, larut dan kuasa atas alarn semesta. Beliaulah yang menjadi inti hakekat dan sang “ADA” dan diberikan gelar atas kuasa yang dimilikinya oleh “ada” lainnya. Dalam Mytologi Hindu di dalam melaksanakan proses penciptaan yang tiada awal akhir, Beliau ditemani oleh saktinya (Uma atau Durga), dan sinilah muncul konsep “Ardhanareswari” yang merupakan gabungan dan sifat pria dan feminim. Konsep Ardhanareswari ini pun masuk dan memberi jiwa dalam ajaran Hindu di Nusantara dan ditegaskan dalam lontar Padma Bhuwana yang menyebutkan:

Read more 17/02/2009

Mecaru

Nabe Waktra saya, Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Prateka Tenaya dari Griya Padangsari, Desa Padangan, Tabanan, dikenal sebagai Sulinggih yang tidak banyak bicara. Orangnya sangat kalem dan cenderung pendiam. Namun beliau .sangat terbuka dan menyediakan waktunya berjam-jam untuk memberi pencerahan.

Read more 13/02/2009

Brahman — Keinginan — Kebahagiaan

Yadyat sukham bhavet tattad brahmaiva pratibimbanat vrttisvantarmukhasvasya nirvighnam pratibimbanam.
(Pancadasi, 19)

Di mana pun kebahagiaan itu ada, maka di sanalah Brahman itu sendiri, merefleksi dalam pikiran. Dalam pikiran introvert (mengarah ke dalam), refleksi Brahman tersebut tak terhancurkan.

SEBELUM keinginan muncul, pikiran kita tenang, bahagia, dan damai. Demikian juga pikiran akan tenang apabila seluruh keinginan terpenuhi.
Ketenangan dan kebahagiaan pikiran sebelum adanya keinginan maupun setelah keinginan terpenuhi tidak berbeda karena Tuhan itu sendiri. Kebahagiaan yang muncul setelah keinginan terpuaskan sama indahnya dengan kebahagiaan yang ada tanpa keinginan. Kebahagiaan itu sendiri ada selamanya dan sama kapan dan di mana pun.

Read more 13/02/2009

Buletin Kulkul Edisi 72

 Penyepian-diri, Sensitivitas dan Menyelidik.

Demi pengembangan total umat manusia, penyepian-diri yang dimaksudkan untuk penyemaian sensitivitas merupakan kebutuhan. Seseorang haruslah tahu apa yang dimaksud dengan sendiri, apa itu meditasi, apa itu mati; serta implementasi dari penyepian-diri, implementasi dari meditasi, implementasi dari mati, hanya bisa dipahami dengan mencari mereka. Implikasi-implikasinya tak bisa dipikirkan; mereka harus dipelajari.

Orang bisa saja mengindikasikan, akan tetapi mempelajari apa yang terindikasikan bukanlah melangsungkan penyepian-diri atau meditasi itu sendiri.

Read more 13/02/2009

Melihat dan Mendengar yang Baik

Bhadram karnebhih srnuyaama devaa bhadram pasyemaaksabhir yajatraah
Sthirair angais tustuvamsas tanuubhir vyayema devahitam yad ayuh
(Rg.Veda 1.89.8 )

Ya Tuhan, semoga kami mampu mendengar apa yang baik dan Ilahi, semoga kami mampu melihat yang baik pula. Dan semoga dengan fisik yang sehat dan kuat mempersembahkan lagu kepada-Mu, kami menikmati hidup yang diberkati Tuhan.

Read more 04/02/2009

Menyeimbangkan Penerapan Agama,

Pemujaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi secara berlebihan dapat menimbulkan sikap hidup yang tidak seimbang. Albert Einstein menyatakan bahwa agama mengarahkan hidup, ilmu memudahkan hidup dan seni menghaluskan serta mengindahkan hidup. Ketidakseimbangan penerapan agama, ilmu dan seni dalam hidup ini akan dapat menimbulkan kehidupan yang pincang. Untuk membangun sikap hidup yang seimbang, agama, ilmu dan seni harus diaplikasikan secara terpadu dengan posisi dan fungsi yang tepat dan akurat.

Read more 04/02/2009

Putra, Suputra, Kuputra dan Adopsi

Bagaikan bulan menerangi malam dengan cahayanya yang terang dan sejuk, demikianlah seorang anak yang suputra yang memiliki pengetahuan rohani, insyaf akan dirinya dan bijaksana. Anak suputra yang demikian itu memberi kebahagiaan kepada keluarga dan masyarakat.

Canakya Nitisastra III.16.

Setiap keluarga mendambakan kelahiran putra-putri yang ideal yang dalam Hindu disebut Putra Suputra, yakni anak yang berbudi pekerti luhur, cerdas dan bijaksana yang akan mengangkat harkat dan martabat orang tua, keluarga dan masyarakat.

Kata "putra" berasal dari bahasa Sanskerta yang pada mulanya berarti kecil atau yang disayang. Kemudian kata ini dipakai menjelaskan mengapa pentingnya seorang anak lahir dalam keluarga : "Oleh karena seorang anak yang akan menyeberangkan orang tuanya dari neraka yang disebut Put (neraka lantaran tidak memiliki keturunan), oleh karena itu ia disebut Putra" (Manavadharmasstra IX.138). Penjelasan yang sama juga dapat kita jumpai dalam Àdiparva Mahàbhàrata 74,27, juga dalam Vàlmìki Ràmàyana I,107-112. Kelahiran Putra Suputra ini merupakan tujuan ideal dari setiap perkawinan. Kata yang lain untuk putra adalah: sùnu, àtmaja, àtmasaýbhava, nandana, kumàra dan saýtàna. Kata yang terakhir ini menjadi kata sentana yang berarti keturunan. Seseorang dapat menundukkan dunia dengan lahirnya anak, ia memperoleh kesenangan yang abadi, memperoleh cucu-cucu dan kakek-kakek akan memperoleh kebahagiaan yang abadi dengan kelahiran cucu-cucunya (Àdiparva,74,38). Pandangan susastra Hindu ini mendukung betapa pentingnya setiap keluarga memiliki anak.

Read more 03/02/2009

Makna Pelinggih Taksu di Merajan

Indriyani parany ahur indriyebhyah param manah.
manasas tu para budhir yo buddheh pratas tusah.
(Bhagawad Gita Gita
IV.42).

Maksudnya:
Sempurnakanlah indriamu, tetapi kesempurnaan indria berada di bawah kesempurnaan pikiran, kekuatan pikiran berada dalam pencerahan kesadaran budhi. Yang paling suci adalah Atman.

MEMELIHARA kesehatan indria agar dapat berfungsi secara sempurna merupakan upaya hidup sehari-hari yang wajib dilakukan. Indria tersebut adalah alat untuk dapat kita merasakan adanya suka dan duka dalam kehidupan ini. Cuma indria yang sehat sempurna itu harus digunakan di bawah kendali pikiran yang cerdas. Kecerdasan pikiran itu dilandasi oleh kesadaran budhi yang bijaksana. Struktur diri yang demikian itulah yang akan dapat mengimplementasikan kesucian Atman dalam wujud perilaku.

Read more 03/02/2009

Krematorium, Solusi Konflik Setra

DENPASAR - Konflik adat di Bali belakangan kerap muncul di permukaan. Yang lebih miris, beberapa di antaranya terkait dengan sengketa pengabenan dan penggunaan setra atau kuburan milik desa.

Melihat fenomena itu, warga Pasek membangun krematorium, tempat pembakaran jenazah, yang bisa digunakan untuk umum dan seluruh soroh (klen) yang ada di Bali. Tempatnya di Desa Kedua Denpasar, beberapa ratus meter di sebelah utara Widyagraha Kepasekan.

Read more 03/02/2009

NEGEN DADUE PEMANAK BARENG

Guna mencapai  kehidupan yang bahagia dan penuh kebajikan, proses pembentukan keluarga baru adalah hal yang sangat penting. Terlebih dalam masyarakat patrilinial, anak laki-laki dipandang sebagai penerus keturunan. Hanya tidak semua orang dikaruniai anak laki-laki. Bagi mereka yangtidak memiliki anak laki-laki dapat mengangkat  sentana rajeb dan menjadikan anak perempuan sebagai Purusa. Dalam beberapa kasus, pihak mempelai laki-laki tidak bersedia statusnya di ubah menjadi Pradana, maka muncullah bentuk perkawinan pada beberapa daerah di Bali dikenal dengan perkawinan “NEGEN DADUE PEMANAK BARENG” atau perkawinan yang mana dua orang berstatus PURUSA.

Read more 03/02/2009

Caru Bherawa di Zaman Logika

Mengapa mecaru di Bali selalu diidentikkan dengan ritual tantrik yang beraroma magis? Sembelih· menyembelih hewan dan mitos mendamaikan alam melalui ceceran darah. Siapakah yang menyempitkan makna mecaru melulu sebagai ritual gaib?

Caru menurut Swara Samhita artinya cantik atau harmonis. Atau di lain pihak akar kata car artinya bergerak atau berputar. Kalau olah kata ini disepadankan dengan filosofis caru di Bali, nampaknya ritual mecaru dimaksudkan sebagai suatu konsep perputaran energi alam untuk menciptakan keharmonisan atau alam yang cantik. Tapi, konsep yang sebenarnya bersifat umum itu tiba-tiba melompat drastis dan mengkhusus menjadi acara penyembelihan hewan atas nama upacara mecaru. Dari mana cikal bakal falsafah caru ini diterjemahkan menjadi pengorbanan binatang?

Read more 02/02/2009

Yadnya dan Motif

Ayam yajno bhuvanasya nâbhih
Yajurveda XXIII. 62.
 
Yadnya adalah pusatnya alam semesta.
Belakangan ini, saat orang-orang mulai menyadari bahwa alam ternyata tidak bisa diperlakukan semena-mena, dieksploitasi demi pemuasan keinginan manusia tetapi sebaliknya mesti tetap dijaga keberagaman dan kekayaannya, mereka melihat ada prinsip/nilai yang mendasarinya.

Mereka menyebut itu sebagai intrinsic value (nilai intrinsik). Seperti halnya manusia, apapun yang ada di alam semesta, baik makhluk hidup maupun benda mati (biotik dan abiotik) memiliki nilai tersendiri yang unik yang mesti kita hormati bersama, jaga bersama, dan memperindah kehidupan bersama-sama.
 
Kepekaan kita terhadap lingkungan, kemampuan kita untuk tetap harmoni bersama alam, kesadaran kita untuk mencintal segala ciptaan, dan kerelaan kita untuk melenyapkan keinginan atau nafsu atau ego pribadi untuk kenikmatan din sendiri adalah salah satu aspek dan pengertian yadnya. Kemampuan untuk selalu bahagia bersama siapapun, apapun, dalam kondisi bagaimanapun, dan memahami dengan benar bahwa pengorbanan jauh di atas segala-galanya, maka apa yang dinyatakan mantra Yajurveda di atas telah hidup dihati kita masing-masing. Kesadaran kita untuk berkorban atau beryadnya akan semakin tumbuh apabila kita semakin menyadari bahwa apapun yang ada di luar diri kita memiliki nilai intrinsic yang nilainya sama dengan diri kita sendiri.

Read more 02/02/2009

Manusia Membentuk Nasibnya Sendiri

Karma : Manusia Membentuk Nasibnya Sendiri

"Siapa yang menyelamatkan kamu?"
"Yang menyelematkan saya adalah perbuatan baik saya!"
"Apa itu mungkin?"
"Apa maksudmu?"
"Kami orang Kristen percaya bahwa kami diselamatkan oleh Yesus. Kematian Yesus di kayu salib telah menebus dosa-dosa kami".

"Semua dosa? Dari Dosa karena kelalaian kecil sampai dosa karena kejahatan besar, misalnya karena membunuh orang?"
"Ya, semua dosa!"

"Saya pernah mendengar yang seperti itu. Ada seorang pemuda yang berkali-kali melakukan kejahatan. Tapi ia selalu lolos dari hukuman. Kebetulan bapaknya orang berkuasa. Karena sayangnya kepada anak ia selalu berhasil mengeluarkan anaknya dari tahanan. Tapi "penebusan dosa" oleh si bapak ini telah merusak dua hal. Pertama, rasa keadilan masyarakat, khususnya orang yang menjadi korban kejahatan anaknya. Kedua, merusak moral anaknya, karena anaknya tidak pernah belajar tentang arti tanggung jawab".

Read more 02/02/2009

Mendalami Konsep Atma, Akan Tumbuh Jiwa Cinta kasih

Dalam zaman edan (kali yuga) ini, banyak kita lihat, baca dan perhatikan dimedia masa maupun dimedia elektronik banyak terjadi pertentangan2, pembunuhan2, konplik antara kelompok yang sangat sulit dicari pemecahannya. Pemerintah dengan kabinet reformasinya dengan para menteri terkait berusaha semaksimal mungkin untuk mengatasi permasalahan beberapa krisis ini, tetapi sampai saat ini belum ada tanda2 perbaikan. Kegagalan pemerintahan orde baru dalam mengatasi kesulitan bangsa ini karena cara penyelesaian yang dipergunakan tidak dengan cara pendekatan kemanusiaan, tetapi dengan rekayasa, intrik2, fitnah dan pendekatan kekuatan militer seperti penculikan yang akan menyebabkan negara kita akan tercabik cabik, dan kalau tidak diatasi dengan bijak kemungkinan terjadi disintegrasi seperti pengalaman2 negara lain yaitu Yugoslavia, Rusia dan lain2nya.

Read more 02/02/2009

Recent

Archive