Archives : January 2009


Aktualisasi Weda Melalui Proses Catur Konsep

Weda adalah kitab suci agama Hindu, diyakini dan dipedomi oleh umat Hindu sebagai satu satunya sumber bimbingan dan informasi yang diperlukan dalam kehidupan sehari hari, maka kitab suci Weda adalah sumber ajaran agama Hindu.

Weda dihimpun menjadi 4 (empat) disebut "Samhita" dan keempat ini dikenal dengan nama Catur Weda yang terdiri dari Rg Weda, Sama Weda, Yayur Weda dan Atharwa Weda. Umat Hindu dengan kepercayaan dan keyakinannya mengaktualisasikan Weda dalam kehidupannya melalui proses Catur Konsep.

Read more 28/01/2009

Bertirthayatra atas Tuntunan Pawisik

Kegiatan spiritual adalah santapan rohani, jadi masing-masing orang memiliki cara berbeda dalam menikmatinya. Bila sebagian umat Hindu bertirthayatra ke India, mandi di sungai Gangga dan mengunjungi Kuru Kshetra, Sungai Yamuna, Godavari dan lainnya, lantas ada sebagian lain yang bertirthayatra ke Jawa. Pura Semeru Agung Lumajang, Candi Ceto dan Pura Gunung Salak, Bogor adalah tujuan tirthayatra favorit saat ini. Jadi, ada yang bertirthayatra atas pijakan sastra, seperti mandi di sungai Gangga misalnya, kemudian yang lain bertirthayatra atas dorongan ingin menapak tilas perjalanan sejarah Hindu di Jawa.

Read more 28/01/2009

Beberapa Sisi Kepemimpinan

Kepemimpinan (lederaship) adalah keadaan untuk menjadi seorang pemimpin (the condidtion of being a leader) atau kemampuan untuk memimpin (the ability to lead). Sedang pemimpin adalah seseorang yang pantas untuk memimpin (a person who is well fitted to lead). Kepemimpinan tentu saja bersifat universal akan tetapi makalah ini berjudul Kepemimpinan Menurut Hindu karena acuannya adalah kepada susastera atau texts. Ada sedikit perbedaan dengan Ilmu Kepemimpinan Modern seperti yang diajarkan diberbagai textbooks yang pembahasannya lebih banyak bersifat traits atau atribut dan sifat sifat yang nyata dari seseorang yang memiliki kwalitas kepemimpinan sedang kalau kita melihatnya dari sudut agama (Hindu) yang lebih ditekankan adalah apa apa saja semangat yang menjadi latar belakang kepemimpinan atau seorang pemimpin. Karena dipandang dari sudut agama maka apa yang diutarakan nantinya bukanlah pandangan penulis atau pembuat makalah melainkan mengacu kepada susastera/texts serta tentu saja disertai oleh contoh-contoh tafsir yang ada pada jaman ini

Read more 28/01/2009

Banten Pejati

Cara Membuat Dan Kajian Filosofis

Banten dalam agama Hindu adalah bahasa agama. Ajaran suci Veda sabda suci Tuhan itu disampaikan kepada umat dalam berbagai bahasa. Ada yang meggunakan bahasa tulis seperti dalam kitab Veda Samhita disampaikan dengan bahasa Sanskerta, ada disampaikan dengan bahasa lisan. Bahasa lisan ini sesuai dengan bahasa tulisnya.

Setelah di Indonesia disampaikan dengan bahasa Jawa Kuno dan di Bali disampaikan dengan bahasa Bali. Disamping itu Veda juga disampaikan dengan bahasa Mona. Mona artinya diam namun banyak mengandung informasi tentang kebenaran Veda dan bahasa Mona itu adalah banten. Dalam Lontar Yajña Prakrti disebutkan:

“sahananing bebanten pinaka raganta tuwi, pinaka warna rupaning Ida Bhatara, pinaka anda bhuana”

artinya:
semua jenis banten (upakara) adalah merupakan simbol diri kita, lambang kemahakuasaan Hyang Widhi dan sebagai lambang Bhuana Agung (alam semesta).

Banten Pejati Banten pejati adalah nama Banten atau (upakara), sesajen yang sering dipergunakan sebagai sarana untuk mempermaklumkan tentang kesungguhan hati akan melaksanakan suatu upacara, dipersaksikan ke hadapan Hyang Widhi dan prabhavaNya. Dalam Lontar Tegesing Sarwa Banten, dinyatakan:

“Banten mapiteges pakahyunan, nga; pakahyunane sane jangkep galang”

Artinya:
Banten itu adalah buah pemikiran artinya pemikiran yang lengkap dan bersih.

Bila dihayati secara mendalam, banten merupakan wujud dari pemikiran yang lengkap yang didasari dengan hati yang tulus dan suci. Mewujudkan banten yang akan dapat disaksikan berwujud indah, rapi, meriah dan unik mengandung simbol, diawali dari pemikiran yang bersih, tulus dan suci. Bentuk banten itu mempunyai makna dan nilai yang tinggi mengandung simbolis filosofis yang mendalam. Banten itu kemudian dipakai untuk menyampaikan rasa cinta, bhakti dan kasih.

Read more 28/01/2009

Logika Pilihan

Sannyasam karmanam krshna purnam yogam ca samsasi
Yac chreya etayor ekam tan me bruhi suniscitam
Bhagavad-Gita (V.1)

”Arjuna berkata: Wahai Krishna, pertama engkau memintaku untuk
melepaskan kerja, lalu engkau lagi memintaku untuk bekerja dengan yoga. Mohon katakan padaku mana dari kedua pernyataan tersebut lebih bermanfaat atau lebih baik?”

Read more 22/01/2009

Jangan berhenti berbuat baik

TEPAT pada purnama pada November 2008 ini, bulan Kathina telah berakhir. Banyak orang yang merasa sudah bukan waktu yang tepat untuk berbuat baik. Mereka merasa sudah cukup banyak berbuat baik, sudah pergi ke sejumlah vihara yang mengadakan perayaan Kathina, dan beberapa alasan lainnya

Read more 21/01/2009

Panca Bali Krama

Pada hari Rabu, 25 Maret 2009 (Budha Pahing Kuningan) umat Hindu di Indonesia kembali menyelenggarakan Karya Agung Panca Bali (Wali) Krama sebagai salah satu rangkaian siklus upacara Bhuta-Yadnya dalam agama Hindu yang berhubungan dengan Ekadasa Rudra. Apabila Ekadasa Rudra diselenggarakan bertepatan dengan Tilem Caitra saat tahun Saka berakhir dengan 00 atau rah windu tenggek windu atau windu turas (setiap seratus tahun sekali), maka Panca Bali Krama diselenggarakan bertepatan dengan Tilem Caitra saat tahun Saka berakhir dengan 0 atau rah windu (setiap sepuluh tahun sekali) seperti tersurat di dalam lontar Indik Ngekadasa Rudra. Landasan yang digunakan sebagai dasar terselenggaranya Karya Agung Panca Bali Krama tersurat di dalam kitab suci Veda, Samhita, Brahmana. Aranyaka, Upanisad, dan kitab-kitab Purana.

Read more 21/01/2009

Siwalatri

Hari Siwaratri yang jatuh pada Purwaning Tilem Kapitu, Sabtu 24/1/2009 mendatang, merupakan momen yang sangat tepat untuk merenung dan mengendalikan diri. Pada hari suci penuh pengampunan itu, umat Hindu diajak untuk bisa mengekang hawa nafsu dan keinginan yang bersifat duniawi. Nilai-nilai apa yang bisa dipetik dari malam Siwaratri dalam konteks kekinian? Kemudian, apakah figur si pemburu Lubdaka yang diceritakan pada malam Siwaratri masih relevan dengan kehidupan sekarang

Read more 21/01/2009

KERUKUNAN DAN PERDAMAIAN

KONSEP PEMIKIRAN HINDU
TENTANG KERUKUNAN DAN PERDAMAIAN
DALAM KEHIDUPAN BERNEGARA KESATUAN

Oleh : Kolonel Inf . I Nengah Dana


PENDAHULUAN

Setiap manusia sebagai insan ciptaan Tuhan yang hidup di dunia ini selalu mendambakan kerukunan dan perdamaian. Demikian pula umat Hindu yang hidup di Negara Kesatuan Republik Indonesia sangat mendambakan hal itu, bukan saja bagi diri atau kelompoknya tetapi bagi keluhuran warga negara, bahkan seluruh penduduk dan atau lingkungannya.

Dalam rangka mewujudkan kerukunan dan perdamaian sebagai bagian dari cita-cita hidupnya, diperlukan adanya konsep pemikiran yang dapat dijadikan pedoman dalam bersikap dan berjuang demi keseluruhan harkat dan martabat bangsanya, ditengah-tengah kehidupan lingkungannya dengan semangat persahabatan dan perdamaian.
Konsep pemikiran yang disajikan dalam makalah ini lebih menekankan pada masalah " etik dan moral " berdasarkan ajaran Veda, dalam konteks kehidupan ber-Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila, ditengah arus kehidupan globalisasi dan perjuangan reformasi guna menemukan serta mewujudkan citra dirinya sebagai bangsa besar yang rukun dan damai.

Read more 16/01/2009

Tumpek landep 17 Januari 2009

Sebelum JMS jumping ke pengertian Tumpek Landep itu sendiri, bersama ini JMS jelaskan tentang apa itu TUMPEK, dan bagaimana keberadaannya serta syclus durasi pemunculannya.

Tumpek = Asal dari kata Tumampek, mendekatkan diri kepada sang Maha Pencipta dg jalan mensyukuri segala ciptaannya  baik secara langsung maupun tidak langsung kita nikmati sehingga sudah sewajarnyalah kita mensyukurinya kepada sang pemberi nikmat.

Read more 16/01/2009

Buletin Kulkul edisi 71

Doa sebelum Makan

Seorang anak laki-laki yang sedang lapar mulai menyantap hidangan makan-malam tatkala yahnya mengingatkannya bahwa mereka belum berdoa.

“Tak perlu Yah...” sahut si anak, “Ibu sekarang sudah pintar memasak!” Tegasnya¹).

Tak peduli apakah masih anak-anak atau sudah dewasa,kebanyakan dari kita umumnya menempatkan doa seperti itu. Kita hanya berdoa kalau merasa perlu memohon sesuatu. Doa-doa kita isinya sebagian besar hanya permohonan saja. Akibatnya, kalau tidak ada yang kita rasa perlu untuk dimohonkan, kitapun tidak merasa untuk berdoa.

Di Bali berkembang sebentuk tradisi ritual yang disebut “mesesangi,” yang merupakan pengembangan dari kecenderungan serupa. Ia sejenis perjanjian dengan ‘yang dimintai.’ Ucapan atau doanya saat seseorang mesesangi umumnya kurang-lebih berbunyi: “Beri saya ini, nanti akan saya haturkan itu.”

Umumnya, jelas yang diminta bernilai ekonomis atau non-ekonomis seperti kesehatan, keselamatan,kerahayuan dan lain sebagainya yang jauh lebih tinggi nilainya dibanding yang dijanjikan akan dihaturkan itu. Jadi kayak barter saja.

 

Om Santih, Santih, Santih,,,,OM

Read more 16/01/2009

TIRTAYATRA KE CANDI CETHO DAN CANDI SUKUH

Pulau Jawa, lebih-lebih di wilayah Jawa Tengah, Solo, dan Yogyakarta, dikenal sebagai gudang situs purbakala berupa candi. Bangunan purba ini ada yang berlokasi di daratan, tak sedikit terbangun di daerah pegunungan, seperti Candi Ceto (Ceta), di Kelurahan Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Berlokasi di lereng barat Gunung Lawu yang merupakan bentang alam gunung, berbukit, dan dikelilingi tebing serta jurang nan terjal.

Memasuki kawasan Candi Ceto, tak ubahnya melakukan pendakian rohani. Sepanjang perjalanan berliku-liku melalui perkebunan teh dan hutan. Tiap tingkatan dihubungkan dengan pintu masuk hingga menuju ke tingkatan paling suci.

Dibeberapa tingkatan juga terdapat relief yang bercerita tentang kehidupan binatang, dan manusia. Hingga akhirnya di puncak tidak ada apa-apa, kecuali kosong. Kosong ini disinyalir sebagai manifestasi dari "Manunggaling Kawula Gusti", bersatunya diri manusia dengan tuhan.

Warga yang berdiam di sekitar Gunung Lawu dominan pelakon utuh ajaran Kejawen . Mereka amat menyucikan candi di kawasan berketinggian 1.400 meter dari atas permukaan laut ini.

Read more 13/01/2009

Aktualisasi agama dalam Konteks Perubahan Sosial

Aktualisasi agama dalam Konteks Perubahan Sosial

“Wahai umat manusia, satukan pikiranmu untuk mencapai

satu tujuan dan satukan hatimu, satukanlah pikiranmu dengan

sesama dan semuanya tinggal dalam pergaulan

masyarakat yang harmonis”

Rgveda X.191.4

Read more 13/01/2009

Membangkitkan Daya Spiritual di Hari Pagerwesi

Membangkitkan Daya Spiritual di Hari Pagerwesi

Sang Hyang Agni adalah sebutan Tuhan sebagai Guru dalam Vana Parwa, sedangkan dalam konsep Siwa Paksa Tuhan sebagai Guru disebut Sang Hyang Paramesti Guru yang khusus dipuja saat hari raya Pagerwesi. Sementara dalam sistem pemujaan leluhur Sang Hyang Atma sebagai guru dalam Vana Parwa menjadi sistem pemujaan Batara Hyang Guru di Kamulan dalam Hindu Siwa Paksa. Apa sesungguhnya makna hari raya Pagerwesi bagi umat Hindu?

Read more 13/01/2009

Buletin Kulkul edisi 70

Om Swastyastu,

Belajar Menggunakan Perhatian?

Di dalam melakukan sebuah penelitian yang mendalam dan seksama -terhadap apapun juga, dibutuhkan aliran perhatian yang benar-benar terarah dan dalam intensitas serta derajat-ketelitian yang tinggi pada yang diteliti dalam kurun waktu tertentu. Bagi para peneliti di dunia ilmiah, ini bukan lagi sesuatu yang terlalu asing.

Bagi yang awampun sebetulnya punya kemampuan itu. Bahkan, tak terpungkiri kalau suatu kali Anda pernah memperhatikan sesuatu dengan cukup intens, dengan cukup teliti. Apa yang hendak saya katakanlah adalah, untuk menjadi 'penuh perhatian', kita tidak harus menjadi seorang peneliti ilmiah, seorang saintis. Segala kemampuan terkait dengan itu ada pada kita semua. Bedanya, mungkin Anda menyadarinya, dan saya tidak; mungkin Anda telah terbiasa menggunakannya sehingga kemampuan itu berkembang dengan baik, dan saya tidak. Hanya itu.

Oleh karenanya, bagi saya adalah, dengan menyadari dan mengetahuinya demikian, apakah saya mau belajar menggunakannya sehingga ia bisa berkembang dengan baik, atau tidak? Bila tidak, tentu saya tidak menerima manfaat apapun daripadanya -dari kemampuan yang secara laten ada pada saya, ada pada setiap orang. Itu saja.

 

Om Santih, Santih, Santih,,,,OM

Read more 13/01/2009

Recent

Archive