Saripati Bhagavadgita

Jakarta -

Saripati Bhagavadgita

 Oleh: I Wayan Sudarma (Shri Danu D.P)

Filsafat dari Gita adalah sintesa yang luar biasa dari filsafat, dari Upanisad dan berbagai aliran dalam agama Hindu yang muncul dari berbagai periode.  Perbedaan pandangan dualistik dan non dualistik dalam filsafat Hindu, dan pandangan yang berbeda dari berebagai aliran pikiran dalam tradisi agama Hindu, menemukan penyatuan dalam semangat spiritual dalam Gita. Walaupun interpretasinya dapat beraneka ragam, filsafat dalam Bhagavadgita dapat diringkas sebagai berikut:

1.      Kenyataan yang mutlak memiliki dua aspek, transendental (impersonal) dan ada dimana-mana (personal).

2.      Dalam aspeknya yang transendental, Kenyataan yang mutlak adalah Brahman dari Advaita Vedanta, yang tidak dapat dibedakan, tidak dapat didekati, tidak berbentuk dan tidak memiliki atribut.

3.      Dalam aspeknya yang immanen (selalu ada), Kenyataan yang mutlak adalah Tuhan, pencipta, penjaga, pengendali dan pemimimpin moral dari jagat raya. Ia adalah ayah, ibu, teman, pembimbing dan penyelamat dunia.

4.      Tuhan telah menciptakan jagat raya dari diriNya. Ada dua aspek dalam sifatNya, aspek yang lebih tinggi dan aspek yang lebih rendah. Alamnya yang lebih tinggi termanifestasi sebagai diri manusia dan sifatnya yang lebih rendah termanifestasi sebagai dunia material, yang terdiri dari delapan unsur: bumi, air, api, udara, ruang, pikiran, intelek, dan ego. Kedelapan unsur ini mencakup hal-hal yang bersifat duniawi (prakrti), atau alamnya dengan tiga sifat intrinsik yaitu Sattva, Rajas, dan Tamas. Keseluruhan benda dan mahluk dimasukkan ke dalam manifestasi dari dua aspek Tuhan dalam bentuk individu dan halnya (prakrti).

5.      Tuhan Yang Maha Kuasa menyerap ke dalam jagat raya dan adalah pengatur dari semua mahluk hidup. Semua benda dan mahluk hidup di dunia terpusat dalam dirinya, seperti mutiara dalam benang. Ia adalah asal dan akhir dari semuanya dalam jagat raya ini. Tidak ada apapun yang lebih tinggi dariNya. Ia meresap dalam semuanya dan semuanya adalah dirinya, kemudian Ia transendent dalam semuanya dan Ia tidak berada dalam diri mereka (Bhagavadgita, IX. 4-6).

6.      Tuhan itu murni, abadi, sadar, di luar jangkauan ruang dan waktu, di luar dari kelahiran dan kematian, tidak dapat berpindah dan adalah merupakan ungkapan dari sifat yang lebih tinggi dari Tuhan. Dengan salah telah mengidentifikasikan dengan ego, individu melebur, dibatasi dan disubyekkan pada kesenangan dan rasa sakit di dunia ini. Identifikainyang salah ini dengan keberadaan materi adalah disebabkab oleh ikatan pada dunia. Pembebasan tercapai ketika diri kita menghilangkan identifikasi dengan ego yang terbatas dan menyadari sifatnya yang benar yaitu kesucian dab Ketuhanan.

7.      Bhagavadgita menganjurkan empat jalan, untuk dapat mencapai moksa (kebebasan diri): melalui tindakan (karma yoga), medias (raja yoga), pengabdian (bhakti yoga), dan pengetahuan (jnana yoga). Jalan ini bukanlah jalan utama tetapi berhubungan dan mengarahkan seseorang pada tujuan yang sama. Semua jalan membutuhkan kehidupan yang bermoral dan disiplin diri. Seseorang individu dapat menemukan keberadaan dari kenyataan Tuhan (sebagai intisari dari dirinya) dengan mengikuti satu atau lebih jalan di bawah bimbingan dari seorang guru yang bermutu. Seorang pemuja dapat mengikuti satu atau jalan yang lain bergantung dari sifat dan keinginannya.

8.      Bhagavadgita yang mengajarkan bahwa Tuhan Yang Kuasa berbicara dan mengerti semua bahasa dan menerima pemujaan dan doa kita dalam bentuk apapun yang kita haturkan padaNya, dan membuat diriNya dapat kita lihat dalam segala arah dimana kita mencarinya. Pemikiran Hindu yang universal ini terefleksikan secara sepenuhnya dalam jiwa dari Gita.

Dapat disimpulkan, bahwa sebagai intisari dari Bhagavadgita, seorang cendekia yang tidak diketahui mengungkapkannya dalam kata-kata berikut:

“ Intisari dari Gita adalah visi dari semua benda dalam diri Tuhan dan visi Tuhan dalam semua benda”. Penyatuan dalam kehidupan adalah inti dari pesan dalam Bhagavadgita. Untuk mengungkapkannya Dr. Sarvepalli Radhakrsna mengatakan: “Kita tidak memulai pada baris yang sama tapi yang kita cari adalah sama. Kita bisa mendaki gunung dengan jalan yang berbeda pandangan dari semua pemikiran itu adalah sama”.


(Source : HD Net)

Back   11/05/2009

Recent

Archive