Saat Ini untuk Masa Depan

Denpasar -

HAMPIR semua orang telah memahami bahwa kehidupan ini merupakan sebuah rangkaian sebab dan akibat yang terjadi terus-menerus. Apa yang ada pada saat ini merupakan akibat dari perbuatan yang telah kita lakukan sebelumnya. Bukan karena orang lain, bukan karena makhluk lain. Sebuah perbuatan akan menimbulkan akibat dan akibat ini akan menjadi sebab yang baru.

Coba renungkan apa yang Anda miliki saat ini. Kalau Anda mempunyai ketrampilan dan pengetahuan yang cukup, tentu karena Anda telah belajar dengan rajin di masa lalu, rajin membaca buku, berdiskusi, dan seterusnya. Jika saat ini Anda mempunyai gangguan kesehatan, coba diingat kembali, apa yang telah Anda lakukan di masa silam, bagaimana pola makan Anda, apa yang Anda konsumsi, dan seterusnya.
 
Terlepas dari kamma masa silam yang tidak kita ketahui dengan jelas karena belum mampu menembusnya secara batin, kebiasaan yang ada dalam kehidupan di masa silam memberikan akibat dalam kehidupan kita di saat sekarang. Dengan demikian, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa apa yang kita lakukan saat ini akan memberikan pengaruh pada kehidupan mendatang.
 
Bagaimana dengan masa depan Anda? Semuanya tergantung dari apa yang akan Anda lakukan di saat sekarang. Oleh karena itu, cobalah untuk melihat diri sediri, kelemahan dan keburukan diri sendiri. Lihatlah apa yang telah membuat Anda berhenti berkembang, sifat-sifat buruk yang ada di dalam diri sendiri. Ketika kita menyadari hal ini dan berusaha untuk mengubahnya ke arah yang lebih baik, kebaikan akan muncul dalam kehidupan ini.
Rumusan ini juga berlaku dalam usaha kita untuk merealisasi kebahagiaan tertinggi, nibbana. Nibbana tidak datang secara tiba-tiba. Diperlukan usaha dan ketékunan untuk menyempurnakan paramita, kebajikan, dalam setiap kehidupan. Demikian juga dengan kehidupan sekarang, jangan pernah menyia-nyiakan waktu yang ada dengan menambah perbuatan yang dapat menghilangkan kesempatan tersebut.

Mahadhana, seorang anak bendahara di zaman Sang Buddha, mewarisi kekayaan yang sangat banyak. Namun karena ketidaktahuan, Mahadhana dan istrinya menghabiskan kekayaan tersebut dengan mengkonsumsi minuman keras dan mencari hiburan. Kebiasaan buruk ini mengakibatkan dia menjadi orang yang miskin, tidak memiliki harta benda dalam bentuk apapun, dan menjadi pengemis di jalanan.
 
Pada suatu kesempatan, Buddha Gotama menjelaskan kepada Ananda tentang Mahadhana. Jika Mahadhana menjadi bhikkhu sejak muda, dia bisa mencapai arahat dalam kehidupan ini; jika diri menjadi bhikkhu sejak usia paruh baya, dia bisa mencapai tingkat kesucian anagami; dan jika dia menjadi bhikkhu pada saat usia tua, dia bisa mencapai tingkat kesucian sakadagami. Pencapaian ini teijadi akibat dan kebajikan yang telah dilakukan dalam kehidupan sebelumnya. Namun, karena minuman keras, Mahadhana tidak mencapai apa pun dalam kehidupan ini dan sebaliknya, menjadi pengemis.
 
Mahadhana telah kehilangan kesempatan yang dimiliki akibat dan perbuatan yang dilakukan dalam kehidupan ini karena kebodohan, kegelapan batin yang dimiliki. Mahadhana harus menempuh penjalanan panjang dalam lingkaran kelahiran kembali. Entah berapa lama dan berapa panjang perjalanan hidup yang harus dijalani oleh Mahadhana.

Sebagai umat Buddha, kita mempunyai tujuan akhir dalam perjalanan hidup ini:
Nibbana menjadi tujuan jangka panjang. Kehidupan duniawi yang lebih baik merupakan tujuan jangka pendek, yang kita butuhkan dalam kehidupan sekarang. Dengan mempunyai kehidupan duniawi yang lebih baik, kita mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk memperbaiki diri, meningkatkan wawasan dalam dhamma, mengembangkan latihan secara batin, dan menyempurnakan parami sedikit demi sedikit.
 
Apapun kondisi kehidupan Anda saat in berusahalah untuk selalu berbuat baik dalam setiap kesempatan yang ada. Berusaha untuk selalu berjalan di jalan dhamma, mempraktikkan dhamma dalam kehidupan sehari-hari. Berusaha untuk melatih pikiran, bermeditasi, mengembangkan pikiran baik sehingga pikiran baik menjadi lebih kuat; membuat kita lebili mudali mengembangkan kebajikan.
 
Kondisi masa depan adalah akibat dari perbuatan kita sekarang. Kita sendiri yang bertanggung jawab dalam kehidupan kita. Tidak ada orang lain. Tidak ada makhluk lain. Semuanya ada di tangan kita.

(Source : Bali Post – Minggu, 22 Juni 2008)

Back   28/04/2009

Recent

Archive