Perjalanan Pertama dalam Berpikir adalah Identifikasi

Jakarta -

ANUGERAH yang salah. Itulah barangkali yang terjadi dengan Dharmasvami. Tapi apanya yang salah dari anugerah itu? Isinya, waktunya, tempatnya, pemberi, atau penerima anugerah? Kita tidak pemah bisa tahu dengan pasti, karena cerita adalah se­buah metafora. Apa yang dikatakan tidak sama dengan apa yang dimaksudkan. Oleh karena itu, mari jangan meneari kepastian di dalam maupun di luar sastra. Baca-ba­calah, kata orang bijak. Temukanlah kemu­ngkinan-kemungkinannya. Dan puaskanlah dahaga batin dengan cukup itu. Anugerah yang salah, dan anugerah yang benar, tidak akan mengubah sesuatu yang sudah digariskan ter­jadi. Keyakinan konon akan mengubah ke­mungkinan-kemungkinan menjadi kepastian. Karena di dalam keyakinan itu ada kekuatan. Makanya, barang yang paling banyak dibela manusia di atas bumi ini adalah keyakinan. Baik itu keyakinan sendiri maupun keyaki­nan kelompok.

 Dharmasvami figur yang fenomenal dan kontroversial. Jenis kelamin laki-laki. Tempat dan tanggal lahir tidak jelas diketahui. Agamanya pasti Hindu. Dewa pujaannya Shiwa. Pe­kerjaannya pertapa. Gelar spiritualnya bhagawan. Statusnya, tidak beristri dan tiada beranak (sepanjang yang diketahui dari ceri­ta). Riwayat pertapaannya, terlampir di bawah ini.

 Beliau adalah seorang p.emuja Shiwa yang taat. Ritual pertapaannya sesuai dengan tun­tutan tradisi pada zamannya. Beliau memiliki sebuah tempat suei. Tiap pagi, siang, dan malam beliau melakukan pemujaan di tempat suci itu. Selain pemujaan, beliau juga melakukan dengan tekun apa yang disebut tapa, brata, yoga, semadi. Tidak ada yang kurang. Tidak juga ada yang terlalu dilebih-lebihkan. Beliau seorang pemuja dan spiritualis. Tidak main­main, tempat sucinya pun ada di tengah hu­tan. Beliau bukan seorang pemuja yang buta, beliau adalah seorang pemuja yang berpikir dan bemalar. Dan beliau bertapa tidak mem­bawa senjata. Pertanda beliau bukan pembu­ru kebenaran di jalan perang. Tapi pemburu kebenaran di jalan memohon.

 Demikianlah eara beliau mensiasati mis­teri kehidupan yang tidak mampu dipecah­kannya. Hanya dengan pertolongan Shiwa, beliau akan mendapatkan inspirasi. Dan den­gan inspirasi itu, beliau mungkin akan mam­pu menguak sedikit demi sedikit misteri sang­kan paraning dumadi, asal dan tujuan penjel­maan, witning sarwadadi, sebab-musabab segala yang ada, tattwa aditattwa, hakikat dari hakikat tertinggi, dan seterusnya, dan selan­jutnya. Tujuannya hanya satu, amor ring acintya, bersatu padu dengan Yang Tak Terpikirkan. Tanpa sisa. Seperti anapaki kuntul anglayang, mencari jejak bangau terbang. Bersih langit tanpa meninggalkan apa yang banyak pertama sebut karmawasana, sisa-sisa perbuatan. Tanpa pabalikan, tidak ada jalan kembali.

 Sebagai pembaca kita tidak tahu, apakah tujuan itu murni hasil perenungannya, atau itu adalah cita-cita yang diberikan oleh bacaan­nya. Maksudnya, ia tidak tahu apakah itu buah perenungan buddhinya atau hasil kerja inteleknya. Kita juga tidak tahu, apakah perjumpaan pertama dengan dewa pujaannya adalah kenyataan atau fantasi. Karena apa yang dika­takan pertama adalah apa yang ia in­ginkan orang mengetahuinya. Apa yang orang tidak boleh tahu, tidak dikatakannya. Sekali lagi, di dalam dunia kata, yang ada hanya kemungkinan-kemungkinan.

Shiwa yang bersifat anima, “kecil sekecil­-kecilnya kecil”, masuk ke dalam pikiran Dhar­masvami. Ia menjadi satu dari Dewasaksi. Dari dalam pikiran itulah Shiwa Yang Mahatahu mengamati gerak-gerik Dharmasvami. Tidak ada yang tidak diketahui Shiwa. Tidak ada yang luput dari pengamatan dan pantauannya. Dhar­masvami tidak ngeh tentang itu.

Dua kewenangan Shiwa, yaitu memberi­kan anugerah dan menjatuhkan kutukan. Untuk Dharmasvami ternyata Shiwa sudah tahu. Berdasarkan penilaian ini dan itu ia, co­cok diberikan sebuah anugerah. Shiwa tentu saja tidak mengatakan kepada Dharmasvami tentang rencana beliau. Karena pada zaman itu, orang tidak ditanyai apakah ia mau diberi anugerah atau tidak. Sama dengan prosedur penjatuhan kutukan. Orang tidak ditanya apa­kah ia mau menerima kutukan atau tidak. Anugerah dan kutukan jatuh seperti lahirnya seorang bayi. Mau tidak mau, bayi itu lahir. Apakah “anugerah bayi” itu akan hidup terus atau langsung mati, itu masalah lain.

Maka pada suatu hari alangkah terkejutnya Dharmasvami. Pagi-pagi sebelum menggelar pemujaan kepada Shiwa, ia meli­hat seekor lembu di tempat sucinya. Ia lang­sung tahu lembu itu bukan lembu biasa, tapi anugerah dari Shiwa. Entah bagaimana eara kerja pikirannya bisa tahu detik itu juga. Barangkali 'langsung tahu" itu adalah eiri khas kerja pikiran seomag pertapa.

Sebagai seorang pemuja, tentu saja Dhar­masvami bersyukur teramat-amat atas anugerah itu. Ternyata kerja kerasnya sela­ma ini telah berhasil menembus alam Shiwalo­ka, sehingga Shiwa sendiri yang mengirim­kan anugerah. Ternyata dirinya eukup diper­hitungkan di alam atas sana. Kenyataan ini sangat membesarkan hatinya. Tentu saja kian menambah semangatnya untuk melipatgan­dakan pemujaan pada hari-hari berikutnya. Seperti seorang murid, pujian guru lebih memicunya untuk maju daripada sebuah hu­kuman. Hatinya berbunga-bunga. Bunga hat­inya berbuah-buah. Tidak lama lagi, ia akan menjadi seperti yang difantasikannya, perta­ma sukses.

Namun demikian, sebagai seorang yang berpikir dan bernalar, beliau heran. Kenapa Shiwa memberinya anugerah berupa lembu jantan? Sebagai seorang pertapa, tentu akan lebih spiritual kalau dianugerahi lembu beti­na. Dari seekor lembu betina, ia akan menda­pat susu tiap harinya dengan eara memerah­nya. Dan di antara semua jenis bhoga yang layak disantap pertapa, susu adalah sari-sari. Kalau diminum, sari-sari itu akan menjadi isi dan sekaligus penjernih pikiran. Dengan ke­jemihan pikiran, ia akan makin dekat dengan Pujaannya. Karena bukankah Shiwa yang suci hanya bisa didekati dengan kesucian. Bukan­kah yang jernih hanya bisa didekati dengan kejemihan. Api dipancing dengan api, Suci di­pancing dengan suci.

 Tapi, apa pertimbangan Shiwa memberinya lembu jantan? Pertanyaan itu tentu tidak bisa ia ajukan langsung kepada Shiwa. Karena Shiwa berwujud hana tan hana, ada dan tiada. Pertanyaan itu ia tujukan kepada kecerdasan dan ketajaman otaknya sendiri. langsung kepada Shiwa. Karena Shiwa ber­wujud hana tan hana, ada dan tiada. Pertan­yaan itu ia tujukan kepada kecerdasan dan ketajaman otaknya sendiri. Mulailah ia men­gupas-ngupas untuk mengetahui motif di ba­tik anugerah tak lazim itu. Lembu jantan tidak menghasilkan susu, tapi ia adalah sumber sumber dari bayu, tenaga kasar. Apakah Shi­wa ingin menyindirnya, bahwa level spiritu­alnya masih pada lapis luar yang kasar? Ia tidak percaya kalau Shiwa punya waktu untuk menyindir. Ia tidak yakin Shiwa punya sifat suka nyindir. Menurut perenungannya, biasanya Shiwa langsung pada akar per­masalahan, to the point. Shiwa bukalah dewa yang mencla-mencle Kalau tidak memberi­kan anugerah, Shiwa akan menjatuhkan kutukan. Anugerahnya tidak bisa ditolak. Kutukannya tidak bisa dibatalkan. Bahkan tidak bisa dibatalkan oleh diri beliau sendiri. Karena beliau juga terikat oleh doktrin satyawacana. Sebuah kata yang telah diluncur­kan dari mulut, tidak akan bisa disedot kembali. Seperti anak panah, kata itu akan menuju sasaran. Mungkin bisa dibelokkan dengan meluncurkan kata susulan yang lain. Tapi pembelokkan itu akan sia-sia. Karena sebuah kata yang telah “penuh”, bila dibelok­kan, akan bisa berbalik menyerang pengu­capnya. Dan itu sangat berbahaya bagi spiri­tualitas. Makanya, Shiwa tidak melakukan pembatalan atas kutukannya.

Untuk Dharmaswami Shiwa mengirim seekor lembu jantan. Pertanyaannya tidak lagi kenapa seekor lembu jantan, tapi karena Dhar­maswami pikir itu anugerah? Pelajaran perta­ma dalam berpikir adalah identifikasi. Dan per­tama Dharmaswami mengidentifikasi lembu jantan sebagai bukan kutukan Apakah beda anugerah yang salah dengan doa berpikir tidak benar?


(Source : Hd Net)

Back   28/04/2009

Recent

Archive