Yang Paling Sulit adalah Membawa Pikiran

Denpasar -

DALAM percakapan sehari-hari baik dalam pertemuan adat dan agama, maupun percakapan biasa sering dengar orang tua-orang tua bijak menyatakan dalam bahasa Bali tentang susahnya merealisasikan gejolak pikiran sbb: Sing ada kewehan teken ngabe keneh. Kalau di bahasa Indonesia kira-kira begini: tidak ada yang lebih sulit daripada membawa pikiran. Orang yang kegiatan hidupnya berlebihan sampai ia disebut gila kerja untuk mengejar cita-cita. Gila kerja itu sampai menyebabkan ia hidup tidak seimbang. Seperti melupakan kewajiban keluarga, bermasyarakat, kewajiban agama, dll.

Orang yang demikian sering disebut sebagai orang yang susah membawa pikirannya. Karena terlalu banyak yang ingin ia capai. Untuk mencapai yang banyak itu kegiatan hidupnya menjadi over activity. Ketidakpuasannya berlebihan. Memang, cepat berpuas diri memang tidak baik. Tetapi kalau ketidakpuasan itu berlebihan itu pun tidak baik. Boleh bercita-cita setinggi langit, tetapi berlaksana harus sebatas kemampuan. Pikiran itu salah satu kekayaan manusia, anugerah Tuhan yang paling sulit mengendalikannya. Pikiran disebutkan dalam sastra Hindu bagaikan kera mabuk. Sebentar loncat ke sana sebentar lagi loncat ke mari.

Dalam Sarasamuscaya.81 dinyatakan bahwa: Keadaan pikiran tidak berketentuan jalannya. Banyak yang dicita-citakannya. Terkadang penuh kesangsian. Demikian kenyataannya. Jika ada orang dapat mengendalikan pikiranya (humeret manah) pasti orang itu akan mendapatkan kebahagiaan di dunia sekarang maupun di dunia yang lainnya. Dalam Manawa Dharmasastra II.92 pikiran itu disebutkan indria yang kesebelas (Ekadasa Mano). Pikiran itu sering juga disebut Rajendria artinya Rajanya Indria. Dalam Katha Upanisad dinyatakan bahwa kuda penarik kereta itu diibaratkan indria. Sedangkan tali kekang kereta diibaratkan pikiran. Kalau pikiran itu tidak kuat kendalinya maka kuda akan berlari tak terarah.

Dalam Manawa Dharmasastra II.100 diyatakan bahwa kalau sepuluh indria dan juga pikiran dapat terkendali dengan baik maka ia akan dapat memperoleh semua apa yang dicita-citakan tanpa memberatkan badannya dengan cara Yoga. Dalam kehidupan sehari-hari kalau ada orang yang terlalu berlebihan bercita-cita sampai-sampai ia justru susah sendiri dan hidupnya tidak seimbang. Orang yang demikian itu disebut oleh masyarakat Bali: keweh pesan ia ngaba kenehne. Nampaknya dari sinilah timbul istilah: sing ada kewehan teken ngabe keneh.

Dalam ajaran Hindu seperti dalam kitab Manawa Dharmasastra V.109, dinyatakan bahwa badan dibersihkan dengan air (adbirgaatrani suddhyati), pikiran disucikan dengan kebenaran dan kejujuran (manah satyena suddhyati). Atman disucikan dengan ilmu pengetahuan dan Tapa (Vidya tapobhyam bhutaatma) dan Budhi disucikan dengan kebijaksanaan (buddhir jnyanena sudhyati). Dalam Bhagawad Gita III.42 dinyatakan bahwa indria itu memang harus dikuatkan. Tetapi yang harus lebih kuat adalah pikiran (indriyebhyah param manah).

Kembali pada pikiran mengapa di dalam kebijaksanaan lokal Bali ada istilah sing ada kewehan teken ngaba keneh. Karena pikiran itu sering terintervensi oleh wisaya atau nafsu yang bergejolak. Ibarat kuda yang binal sehingga tali kekangnya tidak mampu mengendalikan kuda kereta. Tali kekang atau tali lis kereta itulah yang diibaratkan sebagai pikiran dalam Katha Upanishad. Kalau pikiran yang selalu dibiarkan diintervensi oleh nafsu maka sungguh susah membawa pikiran. Memang betul ia meloncat-loncat bagaikan kera mabuk. Pikiran yang terus dicemari oleh nafsu itulah yang disebut manah.

Kalau pikiran dapat dikuatkan oleh kebenaran (Satya Dharma) maka pikiran akan dapat membeda-bedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Pikiran yang dengan jelas dapat membeda-bedakan itu disebut Wiweka. Kalau cara membeda-bedakan itu benar-benar bijaksana maka pikiran yang seperti itulah yang dapat disebut Wiweka Jnyana. Pikiran akan sulit membawanya apabila pikiran itu masih dalam keadaan disebut Manah. Tetapi kalau pikiran itu sudah kuat dan tajam membeda-bedakan baik buruk, benar salah dan seterusnya, maka pikiran yang demikian itulah yang dapat menopang hidup manusia untuk mengendalikan indria. Kejahatan adalah berasal dari hawa nafsu yang tidak terdidik. Ibarat kuda liar, akan membawa kereta tabrak sana dan tabrak sini.

Kalau pikiran yang sudah dikuatkan oleh Satya dan Dharma justru dengan membawa pikiran yang cemerlang ber-wiweka Jnyana itulah hidup ini menjadi ringan. Ibarat tali lis kereta mengendalikan kuda penarik kereta.

Karena itu, didik dan latihlah pikiran kita agar selalu berada di jalur Satya dan Dharma. Memang, dalam praktiknya tidak semudah itu. Namun, dari pesan orang yang bijak dari leluhur kita dahulu muncul. Pesan bijak yang muncul dalam tradisi lokal itu sangat patut kita renungkan kembali untuk dijadikan pegangan dalam hidup dewasa ini. Meskipun pesan bijak itu muncul secara lokal, namun nilai yang dikandung di dalamnya universal sesuai dengan sastra.

 

 


(Source : Source : Balipost)

Back   02/04/2009

Recent

Archive